Labuan Bajo, Radarflores.com - Paguyuban Fratres SVD asal Manggarai Raya menggelar kegiatan Live in di Paroki Tritunggal Maha Kudus Ranggu.
Kegiatan ini dilaksanakan kurang lebih satu minggu yang mulai (12-19/06/2023) itu disambut baik oleh pastor paroki dan umat Paroki Tritunggal Maha Kudus Ranggu.
Perjalanan Paguyuban Fraters dari Ruteng-Ranggu itu ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Sebenarnya perjalanan itu dapat ditempuh selama 2 jam, namun karena akses jalan utama yang masih rusak parah di beberapa titik menyebabkan kendaraan harus jalan ekstra hati-hati.
Di wilayah Kabupaten Manggarai, ruas jalan Rentung-Golo Welu penuh jalan berlubang. Sementara itu, ruas jalan wilayah Kabupaten Manggarai Barat khususnya Deder sampai Bilas mesti diperhatikan dan diperbaiki demi kelancaran transportasi menuju Ranggu.
Penyambutan rombongan Fraters Manggarai Raya, dimulai di luar Gereja Paroki Ranggu dengan acara tπΆπ’π¬ kπ’π±πΆ oleh Gius, perwakilan tua adat Paroki Ranggu. Setelah penyambutan, Paguyuban Fraters diarak menuju aula paroki dengan nyanyian adat dengan seruan berbalas-balasan antara umat paroki dan seluruh rombongan paguyuban.
"Mari kita berarak menuju aula melalui pintu depan dengan nada sukacita kebersamaan," ungkap Gius saat dihubungi wartawan, Rabu (14/6/2023).
Kunjungan Paguyuban Fraters ke Paroki Ranggu merupakan realisasi program Live in Paguyuban Fratres yang biasanya dilakukan setiap tahun.
Kata Gius, tujuan kegiatan itu adalah persiapan dan perutusan para frater dalam melihat, merasakan dan memahami realitas kehidupan umat sebagai ruang praktik calon misionaris di seluruh dunia.
Selain itu, para frater yang juga sekaligus mahasiswa menjadikan kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Romo Laurensius, pastor Paroki Tritunggal Maha Kudus Ranggu dalam sambutan mengatakan bahwa perjuangan hidup dan berada bersama umat Allah mesti ditanggapi dengan nada sukacita sebagaimana acara penerimaan para frater di Paroki Ranggu.
"Selamat datang di Paroki Ranggu, tempat para frater akan menimba ilmu bersama umat Allah yang memiliki karakteristik hidup yang unik dan bermacam-macam," ucap Romo Laurensius.
"Paroki Ranggu sudah mendidik dan menghasilkan 3 uskup, 50 imam, 5 bruder dan banyak suster sebagai pelayan umat Allah yang berkarya di berbagai tempat," katanya.
Ia menegaskan situasi itu sebagai bukti keramahan dan kerja keras seluruh umat Paroki Ranggu dalam memajukan dunia kita ini.
Ia mengharapkan agar para frater mampu hidup dan berada di tengah masyarakat sebagai anggota yang baik dan mengikuti arahan pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Pater Stef Dampur SVD, moderator Paguyuban Fraters menegaskan bahwa realitas kehidupan masyarakat adalah suatu hal yang semestinya dipelajari, dikoreksi dan diperbarui demi keberlangsungan hidup bersama suatu komunitas.
"Problem sosial dalam kehidupan masyarakat bukanlah musuh melainkan sahabat yang harus didekati," ucapnya singkat.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan Live in dinyatakan sebagai suatu proses formasi yang membentuk para frater semakin sigap dalam menjalankan misi ke seluruh dunia. Menurutnya, hal ini dinyatakan secara jelas dalam kitab suci yang berbunyi demikian, pergilah kamu diutus.
"Kegiatan Live in selain dijadikan sebagai cara berada di masyarakat, juga dinyatakan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Sebab ke-36 frater yang datang berkunjung adalah juga mahasiswa," tegasnya.
Di akhir sambutannya, ia mengharapkan agar para frater sebagai generasi muda penanggung jawab masa depan gereja dan dunia mampu beradaptasi di setiap stasi, lingkungan, serta KBG masing-masing.
Ketua paguyuban Aping Suwardi, mengharapkan kepada anggota paguyuban untuk berpartisipasi aktif dan mampu bekerja sama dengan umat selama kegiatan Live in.
"Setelah pembagian, teman-teman akan diantar ke stasi-stasi. Semoga teman-teman mampu bekerja sama dengan baik selama kegiatan Live in ini," pungkasnya.
Diketahui dalam kegiatan Live in itu, para frater paguyuban dibagi ke dalam 7 stasi, yakni stasi pusat yang mencakup pusat paroki, stasi Redek, stasi Suka, stasi Kondok, stasi Nggorong Kotak, stasi Rawuk, dan stasi Golo Binsar.
Kontributor: Isno Baco