Borong, Radarflores.com - Di sebuah kampung sunyi bernama Lompong, di kaki perbukitan Wintul Nos, Desa Golo Lembur, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, waktu berjalan pelan, nyaris tanpa perubahan berarti bagi umat Katolik di sana.

Namun di balik kesunyian itu, ada satu hal yang tak pernah surut, yakni kerinduan akan sebuah gereja permanen.

Sudah lebih dari dua dekade, umat Stasi St. Paulus Bangka Jari menantikan rumah ibadah yang layak. Sejak berdiri pada September 2002 sebagai pemekaran dari Stasi St. Paulus Wae Nenda, harapan itu terus dipelihara, meski belum sepenuhnya terwujud.

Bagi Alvino Seong Sutejo, salah satu umat, gereja bukan sekadar bangunan. Ia adalah pusat kehidupan rohani, tempat umat menemukan penguatan iman sekaligus merawat kebersamaan.

“Kami sudah lama merindukan gereja permanen seperti di tempat lain, supaya bisa beribadah dengan lebih layak dan nyaman,” katanya kepada media, Kamis, 19 Maret 2026.

Selama ini, umat hanya mengandalkan bangunan darurat. Saat hujan turun, air kerap merembes masuk. Ketika panas menyengat, ibadah berlangsung dalam ketidaknyamanan. Kondisi itu menjadi keseharian yang mereka terima dengan sabar, meski jauh dari ideal.

Ketua Stasi Bangka Jari, Fransiskus Gagut, menyebut keinginan membangun gereja permanen bukan hal baru. Wacana itu telah lama bergulir, namun selalu terbentur keterbatasan sumber daya.

“Ini bukan hanya soal bangunan, tetapi soal harapan umat. Kami ingin punya gereja yang menjadi pusat iman dan kebersamaan,” ujarnya.

Secara administratif, stasi ini berada di bawah Paroki Benteng Jawa, Kevikepan Reo, Keuskupan Ruteng. Saat awal berdiri, jumlah umat sekitar 70 kepala keluarga. Kini, jumlah itu bertambah menjadi 141 kepala keluarga atau sekitar 600 jiwa yang tersebar dalam lima kelompok basis gereja.

Lahirnya Stasi Bangka Jari dahulu juga berangkat dari kebutuhan nyata. Para ketua kelompok basis harus berjalan kaki hampir 5 kilometer ke Stasi Wae Nenda untuk menghadiri rapat.

Kondisi geografis yang sulit mendorong umat untuk mandiri, membentuk stasi sendiri, sekaligus merintis harapan baru.

Namun perjalanan menuju kemandirian itu tidak mudah. Hingga kini, akses menuju Lompong masih menantang. Dari pusat Paroki Benteng Jawa, jaraknya sekitar 12 kilometer dengan kondisi jalan rusak dan berbatu. Perjalanan ke sana bukan sekadar soal jarak, tetapi juga ketahanan fisik.

Keterbatasan itu juga terasa saat perayaan besar. Pada momen Natal dan Paskah, umat kerap berjalan kaki sejauh 5 kilometer menuju gereja di Wae Nenda demi mengikuti misa.

Harapan sempat menemukan titik terang pada 2017, ketika umat bersepakat mengumpulkan dana untuk membeli tanah gereja. Semua terlibat, dari orang muda hingga lansia, dari keluarga mampu hingga yang serba terbatas.

Dua tahun kemudian, rencana pembangunan gereja mulai disusun. Namun pandemi Covid-19 menghantam, membuat ekonomi umat terpuruk dan pembangunan terhenti.

Baru pada 2022, semangat itu kembali menyala. Panitia pembangunan dibentuk, dan umat mulai bekerja dengan apa yang mereka miliki. Batu dan pasir dikumpulkan dari alam sekitar. Laki-laki memikul material, sementara para perempuan menyiapkan makanan sederhana, umbi-umbian yang disantap bersama di sela kerja bakti.

Gotong royong menjadi energi utama. Sedikit demi sedikit, fondasi gereja mulai berdiri. Beberapa besi tiang pun telah terpasang, menjadi penanda bahwa harapan itu bukan sekadar wacana.

Namun, jalan masih panjang. Biaya pembangunan yang terus meningkat, keterbatasan bahan, hingga ongkos tukang menjadi tantangan nyata. Iuran umat sebesar Rp1 juta per kepala keluarga, yang dicicil selama dua tahun, belum cukup untuk menyelesaikan pembangunan.

Di tengah segala keterbatasan itu, umat tetap bertahan. Mereka tidak hanya membangun dinding dan tiang, tetapi juga merawat keyakinan bahwa suatu hari nanti gereja itu akan berdiri utuh.

Bagi umat Bangka Jari, gereja permanen bukan sekadar tempat beribadah. Ia adalah simbol bahwa perjuangan panjang, pengorbanan, dan doa yang mereka rawat selama puluhan tahun akhirnya menemukan rumahnya.

Harapan

Harapan akan berdirinya Gereja Stasi St. Paulus Bangka Jari tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan umat setempat.

Frans berkata, di tengah keterbatasan yang umat hadapi, terbuka ruang bagi kepedulian yang lebih luas, dari para donatur, pemerhati kemanusiaan, maupun siapa saja yang tergerak hatinya.

Bagi umat di Lompong, bantuan sekecil apa pun bukan sekadar dukungan materi. Ia adalah tanda bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Bahwa ada tangan-tangan lain yang ikut menopang harapan agar sebuah rumah ibadah yang layak dapat segera terwujud.

"Dana yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan fisik gereja, mulai dari penyediaan bahan bangunan, pembiayaan tenaga kerja, hingga penyelesaian struktur utama agar gereja dapat segera digunakan untuk perayaan iman," terang Frans.

Lebih dari itu, kontribusi para donatur juga akan berdampak pada kehidupan sosial umat. Gereja yang berdiri kokoh akan menjadi pusat pembinaan iman, pendidikan karakter generasi muda, serta ruang perjumpaan yang mempererat persaudaraan di tengah keterbatasan wilayah terpencil.

Umat Stasi Bangka Jari percaya, setiap bantuan adalah bagian dari karya bersama. Sebuah gotong royong lintas batas, yang menyatukan mereka yang memberi dan mereka yang menerima dalam satu tujuan: menghadirkan tempat yang layak bagi doa-doa yang telah lama dipanjatkan.

Dengan kerendahan hati, kata Frans, umat membuka pintu bagi siapa saja yang ingin ambil bagian dalam perjalanan ini. Sebab bagi mereka, gereja yang kelak berdiri bukan hanya milik satu komunitas kecil di Lompong, melainkan buah dari kepedulian banyak hati. 

Martinus Gabriel Goa, Tenaga Ahli Kementerian HAM Bidang Human Trafficking dan HAM Berat, menyatakan dukungannya terhadap kerja keras dan kerja sama umat Stasi Bangka Jari, khususnya dalam mewujudkan pemenuhan hak asasi manusia (HAM) atas rumah ibadah yang nyaman dan layak untuk memuji serta memuliakan Tuhan Raja Alam Semesta.

Ia juga menekankan bahwa selain pembangunan rumah ibadah, kerja keras dan kerja cerdas umat perlu diarahkan pada pemenuhan HAM di bidang ekonomi, sosial, dan budaya (ekosob), agar umat dapat hidup sejahtera secara lahir dan batin.

"Kami sangat mendukung partisipasi umat juga rakyat menjadi pelopor HAM dalam pemenuhan P5 HAM yakni penghormatan, pelindungan, pemenuhan, penegakan dan pemajuan," tegas Gabriel. [RF]

Bila ada yang ingin membantu bisa berdonasi ke nomor rekening Stasi Bangka Jari: BRI 764401034123538 A/N: Stasi Santu Paulus Bangka Jari dan menghubungi WhatsApp Ketua Stasi [+62 812-3614-9072], Humas Stasi [081236253595]