Oleh: Heri Isnaini 


 

Setiap kali memasuki ruang kelas, saya selalu percaya bahwa yang pertama kali hadir bukanlah saya sebagai guru, melainkan harapan. Harapan itu duduk di bangku-bangku kayu, menatap layar laptop, menggenggam telepon pintar, atau sesekali menyembunyikan kegelisahannya di balik tawa yang dibuat-buat. Mereka datang bukan hanya untuk mempelajari materi pelajaran. Mereka sedang mencari cara memahami dunia yang berubah terlalu cepat. Kini, perubahan itu memiliki nama yang begitu akrab di telinga kita: Artificial Intelligence.

Beberapa tahun lalu, AI masih terdengar seperti istilah yang hidup di laboratorium para ilmuwan komputer. Hari ini, ia sudah berada di meja belajar siswa, di ruang kerja dosen, di telepon genggam orang tua, bahkan di percakapan sehari-hari. Ia mampu menjawab soal matematika, menulis esai, menerjemahkan bahasa, membuat ilustrasi, menyusun presentasi, hingga merancang penelitian. Sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat selesai dalam hitungan detik.

Perubahan ini menimbulkan kegelisahan yang tidak kecil. Banyak guru bertanya, "Apakah kami masih dibutuhkan jika mesin dapat menjelaskan pelajaran dengan lebih cepat?" Pertanyaan itu wajar. Hampir setiap revolusi teknologi selalu melahirkan kecemasan serupa. Ketika mesin cetak ditemukan, orang mengira tradisi lisan akan mati. Ketika televisi hadir, orang menduga buku tidak lagi dibaca. Ketika internet berkembang, perpustakaan diperkirakan kehilangan makna. Nyatanya, yang berubah bukan keberadaan manusia, melainkan cara manusia menjalankan perannya.

Demikian pula dengan guru. Sesungguhnya AI tidak sedang menggantikan guru. AI sedang memaksa kita mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: selama ini, apakah kita benar-benar menjadi guru, atau hanya menjadi penyampai informasi?

Dalam tradisi pendidikan modern, Paulo Freire mengkritik apa yang ia sebut sebagai banking model of education. Guru diposisikan sebagai pemilik pengetahuan, sementara peserta didik dianggap rekening kosong yang harus diisi. Pengetahuan dipindahkan, bukan dialami. Akibatnya, pendidikan berubah menjadi aktivitas menyimpan informasi, bukan membangun kesadaran.

Kritik Freire yang lahir puluhan tahun lalu justru terasa semakin relevan pada zaman AI. Jika tugas guru hanya memindahkan informasi, maka mesin memang mampu melakukannya dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. AI tidak pernah lelah menjawab pertanyaan. Ia tidak kehilangan kesabaran ketika pertanyaan yang sama diajukan berkali-kali. Ia mampu menghadirkan jutaan referensi dalam waktu yang hampir seketika.

Di titik inilah kita mulai memahami bahwa informasi ternyata bukan lagi komoditas langka. Yang langka justru kebijaksanaan dalam menggunakan informasi. Guru tidak kehilangan pekerjaan sebab AI menjadi pintar. Guru kehilangan relevansinya ketika ia berhenti menjadi manusia. Kalimat ini mungkin terdengar keras. Namun, sejarah pendidikan selalu menunjukkan bahwa teknologi hanya menggantikan pekerjaan yang mekanis, bukan hubungan yang manusiawi.

Martin Buber pernah membedakan relasi I–It dengan I–Thou. Relasi pertama memperlakukan orang lain sebagai objek. Relasi kedua menghadirkan perjumpaan antarmanusia yang utuh. Pendidikan yang sejati tidak lahir dari hubungan antara mesin dan pengguna, melainkan dari perjumpaan "aku" dan "engkau". Di sanalah tumbuh kepercayaan, empati, keberanian, bahkan luka yang mengajarkan kedewasaan.

Tidak ada algoritma yang dapat menggantikan tatapan seorang guru ketika menyadari ada murid yang sedang kehilangan semangat hidup. Tidak ada model bahasa yang dapat merasakan kegelisahan seorang mahasiswa yang diam-diam bekerja pada malam hari demi membayar uang kuliah. Tidak ada mesin yang dapat memahami mengapa seorang anak tiba-tiba kehilangan minat belajar setelah orang tuanya bercerai. Data dapat mengenali pola. Hanya hati yang mampu mengenali manusia.

Saya teringat pada sebuah pengalaman sederhana di ruang kuliah. Suatu hari saya meminta mahasiswa menulis refleksi tentang sebuah cerpen. Sebagian tulisan mereka begitu rapi, sistematis, bahkan nyaris sempurna. Namun ada sesuatu yang terasa hilang. Saya bertanya kepada salah seorang mahasiswa, "Apakah ini hasil pikiranmu sendiri?" Ia tersenyum canggung. "Sebagian dibantu AI, Pak." Jawabnya.

Saya tidak marah. Justru saat itu saya sadar bahwa persoalannya bukan pada penggunaan AI. Persoalannya adalah hilangnya pengalaman. Tulisan yang baik tidak lahir semata-mata dari susunan kalimat yang benar. Tulisan yang baik lahir dari pergulatan batin. Dari kegagalan memahami sesuatu. Dari keraguan. Dari keberanian mempertanyakan diri sendiri.

AI dapat menyusun kata. Namun, AI tidak pernah benar-benar menyesal. Ia tidak pernah jatuh cinta. Ia tidak pernah kehilangan ibu. Ia tidak pernah duduk sendirian di bangku rumah sakit menunggu kabar seseorang yang dicintai. Sementara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan justru bertumbuh dari pengalaman-pengalaman semacam itu. Barangkali inilah sebabnya mengapa pendidikan tidak pernah cukup hanya mengajarkan jawaban. Pendidikan harus mengajarkan bagaimana seseorang hidup bersama pertanyaan.

Dalam tradisi tasawuf, dikenal istilah adab yang sering kali diterjemahkan sebagai sopan santun. Padahal maknanya jauh lebih dalam. Adab adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa adab melahirkan penindasan. Teknologi tanpa adab melahirkan keterasingan.

AI adalah ilmu yang luar biasa. Namun, AI tetap membutuhkan adab manusia. Di sinilah guru kembali menemukan panggilannya. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Guru menjadi penjaga makna. Ia mengajarkan bagaimana membedakan fakta dan kebijaksanaan, pengetahuan dan hikmah, kecerdasan dan kebijaksanaan moral. Ia menuntun peserta didik agar tidak sekadar mampu menjawab soal, tetapi juga mampu bertanya dengan jujur. Sebab sejarah menunjukkan bahwa peradaban selalu berubah bukan sebab jawaban baru, melainkan sebab pertanyaan baru.

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa merumuskan masalah sering kali lebih penting daripada menemukan jawabannya. Dalam dunia yang dipenuhi AI, kemampuan mengajukan pertanyaan mungkin akan menjadi kompetensi paling mahal. Dan guru adalah penjaga kemampuan itu.

Mungkin sebab itulah saya tidak terlalu khawatir ketika AI semakin cerdas. Yang lebih saya khawatirkan justru ketika guru berhenti belajar. Teknologi berkembang setiap hari. Jika guru merasa pengetahuannya telah selesai, sesungguhnya ia telah mulai ditinggalkan zaman.

Menjadi guru hari ini berarti bersedia terus-menerus dilahirkan kembali. Belajar ulang. Membongkar kebiasaan lama. Mengakui bahwa peserta didik kadang lebih cepat memahami teknologi. Mengakui bahwa buku yang kita baca lima tahun lalu mungkin sudah memerlukan tafsir baru. Mengakui bahwa otoritas tidak lagi lahir dari gelar akademik, melainkan dari kerendahan hati untuk terus belajar.

Barangkali inilah bentuk hijrah intelektual yang paling sunyi. Hijrah dari merasa tahu menuju terus ingin tahu. Hijrah dari mengajar menuju belajar bersama. Hijrah dari menjadi pusat pengetahuan menuju menjadi teman perjalanan pengetahuan. Guru yang demikian tidak akan takut kepada AI. Ia justru memanfaatkannya sebagai ruang dialog baru. Sebab yang ingin ia bentuk bukan sekadar siswa yang pintar menggunakan teknologi, melainkan manusia yang mampu mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambilnya.

Dengan demikian, setiap zaman selalu menghadirkan ujiannya sendiri. Generasi terdahulu menghadapi kolonialisme, perang, dan kemiskinan. Generasi kita menghadapi banjir informasi yang paradoksal: semakin banyak pengetahuan tersedia, semakin sulit menemukan kebijaksanaan. Kita hidup di tengah limpahan data, tetapi sering kehausan makna.

Di tengah keadaan seperti itu, guru sesungguhnya tidak sedang kehilangan peran. Ia sedang dipanggil kembali kepada hakikatnya. Hakikat seorang guru bukanlah orang yang paling banyak tahu. Hakikat guru adalah orang yang mampu menyalakan keberanian orang lain untuk mencari kebenaran, meskipun jalan menuju ke sana penuh keraguan.

Mungkin AI akan terus berkembang. Mungkin suatu hari ia mampu menulis buku yang lebih rapi daripada kita, membuat video pembelajaran yang lebih menarik, atau menjelaskan teori yang lebih lengkap. Semua itu mungkin terjadi. 


Namun, selama masih ada seorang anak yang membutuhkan teladan tentang kejujuran, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengarkan, dan kebijaksanaan menerima perbedaan, guru tidak akan pernah benar-benar tergantikan.

Sebab kelas yang sesungguhnya bukanlah ruang yang dipenuhi meja, papan tulis, atau layar digital. Kelas adalah tempat seorang manusia membantu manusia lain menemukan dirinya. Dan pekerjaan semacam itu, hingga hari ini, belum berhasil diajarkan kepada mesin. 


Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.