Oleh: Heri Isnaini
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, saya sering bertanya kepada mahasiswa di kelas sastra, “Kapan terakhir kali kalian benar-benar memperhatikan langit?” Pertanyaan itu biasanya disambut senyum kecil. Sebagian tertawa. Sebagian lain tampak berpikir. Sebab memang tidak mudah mengingat kapan terakhir kali kita berhenti sejenak hanya untuk melihat awan bergerak, memperhatikan hujan yang turun perlahan, atau mendengarkan suara angin yang melintas di sela-sela dedaunan.
Kita hidup pada zaman yang serba cepat. Kalender penuh agenda. Telepon genggam terus berbunyi. Informasi datang tanpa henti. Kita berlari dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Dari satu rapat ke rapat berikutnya. Dari satu target menuju target berikutnya. Ironisnya, di tengah kesibukan itu, kita sering lupa bahwa hidup bukan sekadar bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Kita lupa menghuni kehidupan.
Barangkali inilah yang ingin diingatkan oleh Martin Heidegger dalam Poetry, Language, Thought ketika ia mengutip penyair Jerman Friedrich Hölderlin: "Poetically man dwells upon this earth." Manusia menghuni bumi secara puitis.
Kalimat itu terdengar indah, tetapi sekaligus membingungkan. Apakah Heidegger ingin mengatakan bahwa semua orang harus menjadi penyair? Tentu tidak. Ia tidak sedang berbicara tentang profesi. Ia sedang berbicara tentang cara hidup.
Bagi Heidegger, manusia tidak benar-benar menjadi manusia hanya karena ia bekerja, berpikir, menghasilkan barang, atau menguasai teknologi. Manusia menjadi manusia ketika ia mampu merasakan makna keberadaannya di dunia. Ketika ia mampu melihat bahwa kehidupan lebih luas daripada sekadar fungsi dan manfaat.
Dengan kata lain, menghuni dunia secara puitis berarti hidup dengan kesadaran. Kesadaran terhadap alam. Kesadaran terhadap sesama manusia. Kesadaran terhadap waktu. Kesadaran terhadap misteri yang melampaui diri kita.
Saya sering merasa bahwa gagasan ini sangat dekat dengan tradisi sastra Indonesia. Banyak puisi Indonesia sesungguhnya tidak berbicara tentang peristiwa besar. Mereka berbicara tentang hal-hal yang tampak sederhana. Tentang hujan. Tentang pohon. Tentang jalan pulang. Tentang sawah. Tentang sungai. Tentang ibu. Tentang rumah.
Namun, justru melalui hal-hal sederhana itulah penyair mengajarkan cara menghuni dunia. Mari kita lihat puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Ketika membaca "Hujan Bulan Juni", kita sebenarnya tidak sedang membaca tentang cuaca.
Kita sedang belajar tentang kesabaran. Kita sedang belajar tentang cinta yang tidak selalu harus diumumkan. Kita sedang belajar tentang ketulusan yang memilih diam. Hujan dalam puisi Sapardi bukan sekadar fenomena alam.
Ia adalah cara memandang kehidupan. Ia adalah pengalaman batin. Melalui hujan, Sapardi mengajak pembacanya menghuni dunia secara lebih pelan, lebih tenang, dan lebih reflektif. Saya kira inilah yang dimaksud Heidegger.
Puisi tidak menambahkan dunia baru. Puisi membantu kita melihat dunia yang sudah ada dengan cara yang baru. Hal serupa dapat ditemukan dalam puisi-puisi Abdul Hadi W.M. Ketika ia menulis tentang laut, perjalanan, burung, atau cakrawala, yang dibicarakan sesungguhnya bukan sekadar benda-benda itu sendiri. Simbol-simbol tersebut menjadi jalan untuk memahami hubungan manusia dengan Yang Transenden.
Dalam banyak puisinya, laut bukan hanya bentangan air. Laut adalah misteri. Laut adalah perjalanan spiritual. Laut adalah ruang tempat manusia menyadari keterbatasannya. Di sinilah puisi memperlihatkan bahwa kehidupan tidak hanya terdiri atas apa yang tampak.
Ada lapisan-lapisan makna yang lebih dalam. Ada ruang kontemplasi yang sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Indonesia, kemampuan menghuni dunia secara puitis sebenarnya telah lama hidup dalam berbagai tradisi lokal.
Masyarakat agraris Nusantara tidak memandang alam semata-mata sebagai sumber ekonomi. Gunung, sungai, hutan, dan laut memiliki dimensi simbolik yang kuat. Alam dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati. Sebab itu kita menemukan begitu banyak mantra, pantun, syair, dan cerita rakyat yang menghubungkan manusia dengan lingkungannya.
Bagi masyarakat tradisional, dunia bukan sekadar tempat tinggal. Dunia adalah ruang makna. Saya teringat pada berbagai pantun Melayu yang diwariskan turun-temurun. Pantun sering berbicara tentang bunga, burung, sungai, atau bulan. Namun sesungguhnya yang dibicarakan adalah hubungan antarmanusia.
Alam menjadi bahasa. Alam menjadi jembatan. Alam menjadi cara memahami diri sendiri. Bukankah itu juga bentuk menghuni dunia secara puitis? Sebaliknya, manusia modern sering kehilangan kemampuan tersebut.
Kita melihat pohon sebagai data inventaris. Kita melihat sungai sebagai saluran air. Kita melihat tanah sebagai aset. Kita melihat hutan sebagai komoditas.
Semuanya diukur berdasarkan manfaat ekonominya. Heidegger menyebut kecenderungan ini sebagai salah satu masalah terbesar dunia modern. Ketika segala sesuatu hanya dipahami sebagai objek yang dapat digunakan, manusia perlahan kehilangan hubungan yang mendalam dengan keberadaannya sendiri.
Akibatnya muncul paradoks. Teknologi semakin maju. Informasi semakin melimpah. Namun manusia justru semakin merasa hampa. Kita mengetahui banyak hal, tetapi sering kehilangan makna. Dalam situasi seperti ini, puisi menawarkan jalan pulang.
Puisi mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu harus dijelaskan melalui angka. Ada pengalaman yang hanya dapat dipahami melalui metafora. Ada perasaan yang hanya dapat disentuh melalui citraan. Ada kebenaran yang hanya dapat ditemukan melalui keheningan.
Saya sering menemukan pengalaman semacam itu ketika membaca puisi-puisi Kuntowijoyo. Dalam karya-karyanya, kehidupan sehari-hari sering bertemu dengan kesadaran spiritual. Hal-hal yang tampak biasa mendadak menjadi ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ini menarik.
Sebab bagi Heidegger, menghuni dunia secara puitis tidak berarti melarikan diri dari kenyataan. Justru sebaliknya. Manusia yang hidup secara puitis adalah manusia yang hadir sepenuhnya di dalam dunia. Ia melihat pohon sebagai pohon. Ia mendengar suara hujan sebagai hujan. Ia merasakan waktu sebagai waktu.
Namun pada saat yang sama, ia menyadari bahwa semua itu mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar fungsi praktisnya. Kesadaran semacam ini juga tampak dalam puisi-puisi Joko Pinurbo. Benda-benda sederhana seperti celana, kamar, pintu, atau rumah dapat berubah menjadi ruang kontemplasi yang kaya makna.
Pembaca diajak melihat kembali benda-benda yang selama ini dianggap biasa. Tiba-tiba sesuatu yang sehari-hari menjadi istimewa. Tiba-tiba sesuatu yang remeh menjadi penting. Tiba-tiba sesuatu yang terlupakan kembali mendapatkan maknanya. Puisi mengembalikan dunia kepada kita.
Barangkali karena itulah puisi tetap bertahan meskipun zaman terus berubah. Puisi tidak bersaing dengan teknologi. Puisi tidak bersaing dengan media sosial. Puisi menawarkan sesuatu yang berbeda. Puisi menawarkan kedalaman.
Dalam dunia yang semakin cepat, puisi mengajarkan kelambatan. Dalam dunia yang semakin bising, puisi mengajarkan keheningan. Dalam dunia yang semakin sibuk menghitung, puisi mengajarkan merasakan. Dan semua itu berhubungan dengan kemampuan menghuni dunia.
Saya membayangkan seorang petani yang duduk di pematang sawah menjelang senja. Ia memperhatikan matahari yang perlahan tenggelam. Ia mendengar suara burung kembali ke sarang. Ia merasakan angin yang membawa aroma tanah basah. Mungkin ia tidak pernah membaca Heidegger. Mungkin ia tidak pernah mempelajari filsafat.
Namun dalam momen itu, ia sedang menghuni dunia secara puitis. Ia hadir. Ia menyadari keberadaannya. Ia menjadi bagian dari dunia yang ditempatinya. Bukankah banyak puisi Indonesia lahir dari pengalaman semacam itu?
Dari kedekatan dengan alam. Dari keakraban dengan kampung halaman. Dari hubungan yang intim dengan kenangan. Dari kesadaran akan waktu yang terus berjalan.
Pada akhirnya, ketika Heidegger mengatakan bahwa manusia menghuni dunia secara puitis, ia sesungguhnya sedang mengingatkan sesuatu yang sangat sederhana tetapi sering terlupakan.
Bahwa hidup bukan hanya soal mencapai tujuan. Bukan hanya soal produktivitas. Bukan hanya soal efisiensi. Hidup juga tentang memperhatikan. Tentang merasakan. Tentang memberi makna.
Puisi mengajarkan kemampuan itu. Puisi mengajak manusia melihat dunia bukan sebagai kumpulan objek, melainkan sebagai rumah tempat keberadaan menemukan maknanya. Sebab itu, membaca puisi sesungguhnya bukan sekadar kegiatan sastra.
Membaca puisi adalah latihan menjadi manusia. Latihan mendengarkan dunia. Latihan memahami diri sendiri. Latihan menghuni bumi dengan lebih sadar, lebih bijaksana, dan lebih penuh makna.
Dan mungkin, di tengah zaman yang semakin terburu-buru ini, kemampuan untuk menghuni dunia secara puitis justru menjadi salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling kita perlukan.
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.