Oleh: Heri Isnaini 


 

Sejarah tidak selalu ditulis dengan air mata. Kadang-kadang sejarah juga ditulis dengan tawa. Kalimat itu mungkin terdengar ganjil. Kita terbiasa membayangkan sejarah sebagai kumpulan peristiwa besar yang penuh kesedihan, konflik, kekerasan, dan penderitaan.

Ketika berbicara tentang perang, penindasan, krisis ekonomi, atau tragedi kemanusiaan, yang muncul dalam benak kita biasanya adalah wajah-wajah muram, tangisan, dan kehilangan. Namun, jika kita menengok lebih dekat ke kehidupan masyarakat, kita akan menemukan sesuatu yang menarik bahwa di tengah luka yang paling dalam sekalipun, manusia tetap mampu tertawa.

Tawa itu bukan tanda bahwa penderitaan telah hilang. Sebaliknya, tawa sering menjadi cara untuk bertahan ketika penderitaan terasa terlalu berat untuk ditanggung. Dalam buku Humour and History, Keith Cameron mengingatkan bahwa humor bukan sekadar hiburan.

Humor memiliki hubungan yang panjang dengan sejarah manusia. Ia dapat menjadi sarana kritik sosial, alat komunikasi budaya, sekaligus mekanisme psikologis untuk menghadapi realitas yang sulit diterima.

Dalam banyak peristiwa sejarah, masyarakat tidak hanya menangis menghadapi tragedi. Mereka juga menciptakan lelucon, satire, dan cerita jenaka sebagai cara memahami apa yang sedang terjadi.

Fenomena ini sangat relevan jika kita membaca sejarah Indonesia. Bangsa ini memiliki banyak luka kolektif. Dari konflik politik, pergolakan ideologi, kekerasan sosial, krisis ekonomi, hingga pandemi global, masyarakat Indonesia berkali-kali dipaksa menghadapi situasi yang tidak mudah. Namun, yang menarik, hampir setiap kali menghadapi krisis, selalu muncul humor.

Seolah-olah masyarakat memiliki naluri budaya yang mengatakan bahwa ketika kenyataan terlalu pahit, tawa dapat menjadi obat pertama sebelum penyembuhan yang sesungguhnya datang. Salah satu contoh yang menarik dapat ditemukan dalam sastra yang lahir setelah peristiwa 1965. Kita tahu bahwa tragedi tersebut meninggalkan luka yang panjang dalam sejarah Indonesia. Banyak cerita yang tidak selesai, banyak suara yang dibungkam, dan banyak kenangan yang disimpan dalam ruang-ruang sunyi.

Sebab situasi politik pada masa itu tidak memungkinkan pembicaraan yang terbuka, berbagai pengalaman traumatis sering muncul dalam bentuk yang tidak langsung. Sebagian hadir sebagai metafora. Sebagian hadir sebagai simbol. Sebagian lagi muncul dalam bentuk ironi.

Mungkin, ironi merupakan saudara dekat humor. Ketika seseorang mengatakan sesuatu tetapi sebenarnya bermaksud mengatakan hal yang berbeda, ketika kenyataan berjalan bertolak belakang dengan slogan-slogan yang diumumkan secara resmi, di situlah ironi bekerja. Dan dalam banyak karya sastra Indonesia, ironi menjadi cara untuk menyimpan sekaligus menyampaikan memori sejarah.

Humor dalam konteks ini bukan lagi soal kelucuan yang mengundang gelak tawa. Humor menjadi bahasa yang memungkinkan masyarakat berbicara tentang hal-hal yang sulit diucapkan secara langsung.

Pada masa Orde Baru, misalnya, masyarakat mengenal begitu banyak lelucon politik yang beredar secara lisan. Lelucon-lelucon itu tidak dimuat di surat kabar. Tidak diajarkan di sekolah. Tidak dicatat dalam dokumen resmi. Namun, ia hidup dari satu percakapan ke percakapan lain. Mengapa? Sebab humor menyediakan ruang aman. Ketika kritik tidak dapat disampaikan secara terbuka, humor mengambil alih fungsi tersebut.

Di warung kopi, di terminal, di ruang tamu rumah-rumah sederhana, masyarakat menciptakan lelucon tentang birokrasi, korupsi, pembangunan, dan berbagai persoalan sosial lainnya. Salah satu cerita yang pernah beredar mengisahkan seorang pegawai yang membeli seekor burung beo. Burung itu tiba-tiba berteriak, "Turunkan harga!" Sang pemilik panik, lalu membawanya ke seorang kiai agar "disembuhkan".

Burung itu dimasukkan ke kandang yang berisi burung-burung lain yang sepanjang hari hanya berzikir. Tidak lama kemudian burung tadi kembali berseru, "Turunkan harga!" Salah satu burung yang sedang berzikir berhenti sejenak, lalu berkata lirih, "Syukurlah, doa kita akhirnya dikabulkan." Orang-orang yang mendengar cerita itu tertawa, tetapi mereka memahami bahwa yang sedang ditertawakan bukanlah burung, melainkan keadaan ekonomi dan ketidakberdayaan masyarakat untuk menyampaikan kritik secara terbuka.

Dalam perspektif sejarah budaya, lelucon-lelucon semacam itu merupakan arsip yang sangat penting. Ia mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah resmi, tetapi ia menyimpan suasana batin masyarakat pada zamannya. Humor menjadi semacam dokumen emosi kolektif. Ia merekam ketakutan, kekecewaan, harapan, dan kemarahan dengan cara yang berbeda dari dokumen politik atau laporan akademik.

Sebab itu, jika kita ingin memahami sejarah secara lebih utuh, kita tidak cukup hanya membaca arsip negara. Kita juga perlu membaca humor yang hidup di tengah masyarakat.

Fenomena serupa dapat dilihat pada masa krisis ekonomi 1998. Bagi mereka yang mengalaminya secara langsung, tahun-tahun itu bukanlah masa yang mudah. Harga kebutuhan pokok melonjak. Banyak orang kehilangan pekerjaan.

Ketidakpastian sosial dan politik terasa di mana-mana. Namun, di tengah situasi tersebut, humor justru berkembang dengan sangat cepat. 


Lelucon tentang nilai tukar rupiah beredar dari satu orang ke orang lain. Ada cerita tentang seorang anak yang bertanya kepada ayahnya, "Pak, kenapa dolar naik terus?" Sang ayah menjawab, "Sebab dia tidak pernah belanja di Indonesia." Lelucon lain berkisah tentang seorang warga yang hendak mengurus surat di sebuah kantor pemerintahan.

Setelah berjam-jam menunggu, petugas berkata, "Berkasnya kurang satu." Dengan cemas ia bertanya, "Apa yang kurang, Pak?" Petugas itu menjawab singkat, "Kesabaran." Cerita-cerita semacam ini tidak mengubah keadaan ekonomi, tetapi memberi ruang bagi masyarakat untuk menertawakan kenyataan yang sama-sama mereka hadapi.

Jika dilihat sepintas, hal itu mungkin tampak aneh. Mengapa orang tertawa ketika keadaan sedang sulit? Jawabannya mungkin sederhana, “Sebab manusia membutuhkan cara untuk tetap waras.” Psikologi modern mengenal humor sebagai salah satu mekanisme pertahanan diri. Ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak dapat ia kendalikan, humor membantu mengurangi tekanan emosional yang muncul. Dalam skala kolektif, masyarakat melakukan hal yang sama.

Mereka tertawa bukan sebab masalahnya ringan. Mereka tertawa sebab masalahnya terlalu berat. Tawa menjadi bentuk negosiasi dengan kenyataan. Ia tidak menghapus penderitaan, tetapi membuat penderitaan sedikit lebih mungkin untuk dihadapi. Di sinilah humor menunjukkan sisi kemanusiaannya yang paling dalam. Humor bukan pelarian dari realitas. Humor adalah cara hidup bersama realitas.

Fenomena ini kembali terlihat dengan sangat jelas ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Pada masa itu, masyarakat Indonesia menghadapi situasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Aktivitas dibatasi. Interaksi sosial berubah. Berita kematian muncul hampir setiap hari. Ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, bersamaan dengan itu, media sosial dipenuhi meme. Ada meme tentang bekerja dari rumah. Ada meme tentang rapat daring yang tidak berujung. Ada meme tentang protokol kesehatan. Ada meme tentang kebijakan publik yang dianggap membingungkan.

Salah satu yang banyak beredar berbunyi demikian. Seseorang bertanya kepada temannya, "Sekarang kerja di mana?" Temannya menjawab, "Di rumah." Orang pertama berkata, "Enak dong." Ia tersenyum lalu menjawab, "Bukan. Sekarang saya merangkap jadi pegawai, guru anak, juru masak, teknisi internet, sekaligus tukang bersih-bersih." Lelucon itu terasa lucu justru sebab begitu dekat dengan pengalaman jutaan keluarga selama masa pandemi.

Di satu sisi, meme-meme tersebut mengundang tawa. Namun di sisi lain, ia juga menunjukkan bagaimana masyarakat berusaha memahami pengalaman yang begitu besar dan mengganggu kehidupan mereka. Dalam konteks ini, meme digital sebenarnya melanjutkan fungsi yang dahulu dijalankan oleh cerita rakyat, karikatur, atau lelucon politik.

Ia menjadi ruang tempat masyarakat mengolah pengalaman kolektif. Ia menjadi sarana untuk mengatakan, "Kita sedang mengalami hal yang sama." Dan perasaan kebersamaan itu sangat penting ketika masyarakat menghadapi trauma.

Trauma sering membuat individu merasa terisolasi. Sebaliknya, humor menciptakan komunitas. Ketika orang tertawa terhadap hal yang sama, mereka merasa tidak sendirian. 
Barangkali sebab itulah humor hampir selalu hadir dalam situasi krisis. Ia menghubungkan manusia dengan manusia lain. Dalam sastra Indonesia, hubungan antara humor dan trauma sebenarnya dapat ditemukan dalam banyak karya. Tidak selalu dalam bentuk komedi yang terang-terangan, tetapi sering muncul sebagai ironi, satire, absurditas, atau kelucuan yang pahit.

Kita dapat menemukan tokoh-tokoh yang tertawa di tengah kekalahan. Kita dapat menemukan narasi yang tampak lucu tetapi menyimpan kritik yang tajam. Kita dapat menemukan peristiwa-peristiwa absurd yang sebenarnya menggambarkan kenyataan sosial yang tidak kalah absurd.

Di titik ini, humor dan sastra bertemu. Keduanya sama-sama berusaha memahami manusia. Keduanya sama-sama mencari bahasa untuk menjelaskan pengalaman yang sulit dijelaskan. Dan keduanya sama-sama memahami bahwa tidak semua luka dapat disembuhkan dengan keseriusan.

Ada luka yang membutuhkan tawa. Tentu saja bukan tawa yang meremehkan penderitaan. Bukan pula tawa yang melupakan sejarah. Sebaliknya, humor yang kita bicarakan di sini justru membantu menjaga ingatan.

Ia mengingatkan masyarakat bahwa suatu peristiwa pernah terjadi. Ia menjaga pengalaman kolektif tetap hidup dalam percakapan sehari-hari. Ia mencegah sejarah tenggelam dalam keheningan.

Sebab itu, humor dapat dipahami sebagai bentuk resistensi. Ia menolak untuk menyerah pada ketakutan. Ia menolak untuk membiarkan penderitaan menguasai seluruh ruang kehidupan. Ia menolak untuk membiarkan trauma menjadi akhir dari cerita.

Dalam banyak kasus, humor bahkan menjadi tanda bahwa harapan masih ada. Sebab hanya orang yang masih memiliki harapan yang mampu tertawa di tengah kesulitan. Orang yang benar-benar putus asa biasanya kehilangan kemampuan untuk melihat sisi lain dari kenyataan.

Sementara humor selalu membuka kemungkinan baru. Ia mengatakan bahwa dunia tidak sesederhana yang tampak. Ia menunjukkan bahwa di balik tragedi masih ada kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan.

Pada akhirnya, sejarah Indonesia bukan hanya sejarah tentang luka. Ia juga sejarah tentang daya tahan. Dan salah satu bentuk daya tahan yang paling sering diabaikan adalah kemampuan masyarakat untuk menciptakan humor di tengah keadaan yang sulit.

Dari lelucon politik pada masa Orde Baru, satire pada masa Reformasi, cerita-cerita tentang krisis 1998, hingga meme yang beredar selama pandemi, kita melihat pola yang sama. Ketika menghadapi tekanan, masyarakat tidak hanya diam. Mereka berbicara melalui humor. Mereka mengingat melalui humor. Mereka melawan melalui humor. Mereka bertahan melalui humor.

Sebab itu, tawa dalam sejarah Indonesia bukanlah tanda bahwa luka telah hilang. Tawa justru menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kekuatan untuk berjalan bersama luka tersebut. Ia adalah cara masyarakat menjaga kewarasan ketika dunia terasa tidak masuk akal.

Dan mungkin di situlah makna terdalam humor, yaitu bukan membuat kita melupakan penderitaan, melainkan membantu kita tetap menjadi manusia ketika berhadapan dengan penderitaan itu sendiri. 



Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.