Oleh: Ardy Abba
Teringat dengan agenda dari Lembaga Stefanus Gandi Institut (SGI) dan Parennial Institut pada Januari lalu. Rombongan kedua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini melakukan kirab literasi mengelilingi Pulau Flores.
Kegiatan yang diikhtiarkan oleh Direktur SGI Stefanus Gandi dan Direktur Parennial Institut Dr. Mantovanny Tapung ini menyasar ke berbagai SMA, Seminari, Perguruan Tinggi, dan Universitas di daratan Flores.
Road show secara marathon selama 14 hari sejak 14-28 Januari 2022 itu pernah mendapatkan penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid). Kedua lembaga tersebut membawa tema besar yakni, “Urgensi Literasi Jurnalistik, Kewirausahaan, dan Digital di Era Disrupsi”
Bicara era disrupsi memang tidak ada habis-habisnya dan tentu kian menawarkan ketertarikan tersendiri. Sebab, dewasa ini sedang diperhadapkan dengan adanya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru.
Tidak bisa dipungkiri perubahan besar tersebut terjadi disebabkan oleh adanya revolusi 4.0, di mana sebuah sistem cerdas dan otomasi sudah ikut campur dalam ruang industri.
Harus kita akui revolusi 4.0 yang digaungkan pertama kali oleh Hannover Fair 2011 di Jerman, memang telah membuat teknologi menjadi basis dalam kegiatan bermasyarakat.
Kita sedang diperhadapkan dengan sistem otomatisasi dalam semua proses aktivasi. Perkembangan teknologi internet pun tentu saja semakin berkembang pesat dan mengalir deras bak air bah.
Tidak hanya menghubungkan manusia di seluruh dunia, tetapi juga menjadi suatu basis bagi proses transaksi perdagangan ekonomi.
Sudah menjadi pengetahuan umum di era revolusi industri 4.0 tentu saja bakal dengan mudah menciptakan perkembangan produk dan keragaman konsumen yang cepat.
Dampaknya adalah harga barang pasti relatif lebih murah. Demikian juga strategi pemasarannya, pasti berubah. Orang akhirnya pula semacam kecanduan gawai (smartphone).
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di era 4.0 memang sudah sangat pesat. Kemajuan peradaban tentu menuntut kita untuk mengikuti laju pertumbuhan. Perkembangan teknologi dan informasi telah merubah cara interaksi orang dengan orang lain.
Salah satu segmen yang banyak dihuni ialah media sosial. Kita akhirnya bermigrasi dari kebiasaan lama yang harus bertemu face to face atau surat untuk menyampaikan pesan ke sekali ketik dengan jari.
Saat ini komunikasi melalui media sosial tentu saja sangat efektif untuk menyebarluaskan informasi secara cepat dan langsung.
Tidak heran orang yang sudah melek teknologi terus mengkampanyekan produk bisnisnya. Tidak hanya untuk perkembangan bisnis, salah satu metode kampanye politik yang masif dijalankan saat ini adadah lewat media sosial.
Para politisi atau tim sukses harus memaksakan diri untuk menggunakan berbagai fitur di masing-masing platform media sosial sesuai dengan kebutuhan dan target pemilih yang disasar.
Media Sosial Pisau Bermata Dua
Di tengah tuntutan inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru, media sosial hadir bagai sang raja yang sangat dibutuhkan rakyatnya.
Media sosial adalah salah satu fitur yang paling sering digunakan oleh pengguna internet saat ini. Kebanyakan orang sudah tidak asing lagi dengan Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, Linkedin, WhatsApp, Tik Tok, dan lain-lain.
Namun di tengah kian maraknya beragam fitur dan aplikasi media sosial, tentu bagai pisau bermata dua. Ada sisi positif, juga pasti beriringan dengan hal negatifnya. Oretan kali ini, saya konsen khusus bahas aspek bisnis dan politik dalam membingkai dampak positif dan negatif dari media sosial.
Hal positif ditinjau dari segi bisnis, misalnya, keseringan menggunakan media sosial bisa meningkatkan keuntungan dari penjualan produk, meningkatkan kredibilitas perusahaan atau organisasi, menjalin kerja sama bisnis secara luas, dan lain-lain.
Pada konteks kampanye politik juga demikian. Dalam skala global, kemenangan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat tidak terlepas dari gempuran kampanye di media sosial. Begitu kata kebanyakan pengamat.
Fenomena buzzer dan spin doctor bisa merasuki aspek emosi pemilih Amerika, hingga Trump menang atas rivalnya Hillary Clinton.
Di Indonesia juga demikian. Sudah menjadi rahasia umum, hampir semua politisi merasakan manfaat positif dari media sosial untuk menyalurkan informasi yang sesuai kebutuhan. Mereka rata-rata sudah memiliki akun media sosial, bahkan dikelola oleh tim khusus.
Politikus bisa mengedepankan pencitraan dan menjadikan media sosial sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi masyarakat. Para politisi juga bisa menggali respons kebijakan politik melalui media sosial.
Sedangkan sisi negatifnya, media sosial kerap dipakai untuk black campaign, para buzzer memanipulasi opini publik dan bisa menyebabkan perpecahan bangsa. Demokrasi pun menjadi kacau-balau.
Buzzer juga sangat berpotensi membolak-balikan fakta narasi. Sesuatu yang tidak sesuai dengan kaidah demokrasi tetapi dipaksakan sedemikian rupa untuk menjadi suatu kebenaran di jagat maya.
Sejalan bersama juga ada aksi fake account yang kian tidak terkendali. Mereka menghujat, mencaci-maki, menyebarkan hoaks, dan hal negatif lain yang tentu saja berdampak pada terganggunya stabilitas kehidupan kita.
Di Pilkada Manggarai, NTT tahun 2020 lalu misalnya, fake account di Facebook berseliweran. Keberadaannya yang diduga terorganisasi dengan baik tanpa beban memaki, menyerang privasi orang lain, yang intinya ingin melumpuhkan lawan politik. Miris memang ketika mengingat kembali.
Kemudian di sisi bisnis, ketika bisnis akan lebih terekspose di internet, maka bisa saja menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Satu kesalahan saja bisa menghancurkan citra bisnis.
Aspek negatif lainnya yakni, memperbesar peluang terkena hit and run (konsumen sudah konfirmasi ingin membeli barang namun tidak jadi), dengan semua proses pembayaran yang online. Sebab, tidak ada interaksi secara fisik dengan pelanggan.
Di era disrupsi ini memang media sosial memegang peranan penting dalam kebutuhan bersosialisasi dan komunikasi. Harus kita akui bahwa hanya dalam satu genggaman, kita semua bisa dengan mudah bertukar informasi, mengakses gambar atau video, hingga pengetahuan baru tanpa celah.
Karena itu sangat diharapkan, jadilah penghuni media sosial yang cerdas dan menjujung tinggi etika. Jangan asal posting konten. Jangan ikut ambil bagian dalam kejahatan siber. Jangan langsung percaya dengan informasi-informasi hoaks. Filter akun-akun yang diikuti. Ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan literasi, dan masih banyak lagi sikap positif lainnya.